Namanya
manusia, gak pernah puas. Yang blom nikah, maunya pengen nikah (piss
ah!), yg udah nikah blom punya anak pengennya cepet2 punya anak, yg udah
nikah&punya anak pengennya suaminya perfect & bisa mengerti,
pengen rumah yg lebih besar, mobil keluaran tahun terbaru,
ach…panjaaaang ya, kalo mikirin keinginan kita terus, gak ada habisnya,
DILEMA....disisi lain ingin terus bekerja tapi anakku yg kedua haruskah senasib dengan kakaknya yg di tinggal sama pengasuh,sediiihhhh........kalo kakaknya nangis dijailin anak lain sebagai ibu aq tersentuh apalagi kalo mau berangkat kerja si kakak bilang," ibu jangan kerja ya ama dede aja di rumah"" huaaa,,,banjir deh air mataku...:-(
Tapi
seiring pertambahan usia (doooh,padahal sy baru 25 lho, lg ranum2nya
**dikemplang**) saya mengubah keinginan2 saya itu sebagai motivasi untuk
menjadi lebih baik dari hari ke hari. Manusia tanpa keinginan adalah
jiwa2 yang mati dalam jasad yang bernapas. Kita ‘wajib’ punya cita2
tinggi, terhadap diri kita, terhadap anak2, terhadap kehidupan
perkawinan, atau terhadap karir. Jangan pernah mau stuck, terlena di comfort zone
– setidaknya itu motto saya. Karena hidup tanpa perubahan itu
membosankan, tidak bermakna buat kita sendiri, dan tidak bernilai buat
orang lain.
Cita2
tinggi boleh saja diidentikkan dengan ambisius (saya termasuk orang
yang ambisius) tapi bisa khan ‘dibelokkan’ ke arah positif, dijadikan
motivasi untuk tetap terus maju, tetap fight ketika kita mengalami rintangan dan cobaan. Kalau gak ambisius berarti gak punya cita2, gak punya planning,
akhirnya gampang terombang-ambing. Membiarkan hidup mengalir bagai air
bukan berarti gak punya tempat yang dituju. Air aja mengalir dari hulu
ke hilir khan, maksudnya pasti ada tempat berhentinya, nah ‘tempat
berhentinya’ itulah maksud saya, tujuan/cita2 kita (bukan mati lho,ya,
karma semua manusia pasti ke tempat itu, gak usah dijadiin tujuan).
Boleh ya, mulai curcolnya **duduk bersila**
Mungkin
kalau yang baca ini belum nikah, atau belum punya anak, saya gak tau
bisa berempati atau gak. Kalau buat saya, dititipi anak itu benar2 suatu
anugrah yang luar biasa yang mengubah hidup saya, jalan hidup saya
mental & spiritual, mungkin. Dan inilah the real life sebenarnya ketika sudah
memasuki kehidupan pernikahan & dikaruniai anak (samasekali gak
bermaksud mendiskreditkan yg belum punya anak, bukan berarti gak
mengalami the real life, karna pasti cobaannya juga berat) kita gak bisa
“cuma” memikirkan diri kita sendiri. Banyak banget permasalahan, sampe
‘berdarah-darah’ untuk tetap bisa bertahan, tapi itulah proses yang
membuat kita menjadi ‘siapa’ kita sekarang. Ibaratnya, atlet senam itu,
mustahil ada yang gak pernah jatoh berdarah2 kalo dia
atlet berprestasi, karna untuk dapat seperti itu ya harus melewati
serangkaian latihan dan ujian. Ya kalo gak mau jatoh jangan mimpi menang
kejuaraan, kalo maunya terus di comfort zone jangan mimpi anda berhasil mencapai cita2 tinggi anda, kira2 begitu.
Sebelum
nikah, ngeliat wanita karir yang cuanteq pake rok setengah mini+blazer
plus percaya diri tinggi, kayaknya gemanaa getuh, sexy banget (kalo saya
jadi pria) maka mulailah saya ‘merintis’ cita2 saya itu, dengan segala
daya upaya dikerahkan. Udah mulai kesampean tuh cita2, walo baru
setengah tapi “bayangan” nya dah mulai keliatan jelas, eh kepingin nikah
(lha,wong dah dapet yg cocok pisangnya –ups!- orangnya,maksud saiah).
Trus emang gak mau nunda punya anak, alhamdulillah cepet dikasih,gak pake berobat ini itu. Tapi, ternyata susah ya, menjalani karir
vs tetap mempertahankan rumahtangga supaya balance…, gak berhasil saiah
! **salut ama yang berhasil keduanya**
Sisi keibuan saya lebih mendominasi ketimbang ambisi mewujudkan cita2 saya jadi career woman
yang sukses. Pilihan saya lebih berat ke anak, dibanding ke tawaran
upeti yang lumayan & kehidupan ‘dunia kantor’ yang (juga) saya
cintai. sebelum memutuskan, saya pikir2 dulu, krn saya bakalan gak
ketemu temen2 kerja yang selalu ngangenin sampai kemungkinan saya harus
ngerubah ‘total’ gaya hidup saya, krn dulu gak pernah bergantung secara
materi kepada siapapun, termasuk suami saya..
Cukup/tidak,
besar/kecil, itu memang relative pada setiap orang, buat saya yang
penting semua kebutuhan dasar bisa dipenuhi suami, dan anak2 mendapatkan
pendidikan terbaik, gak asal sekolah karna gak punya dana utk memilih
sekolah yg bagus. Pendidikan harus yang terbaik. Gapapa ortunya hidup
sederhana, asalkan anak2 jangan ‘dipaksa’ bercita2 sederhana.
Tapi
tetep aja, ya itu tadi, namanya manusia gak pernah puas ya, udah ada
suami (yg alhamdulillah Cuma semacem), dititipi anak (alhamdulillah gak
ada kekurangan yg berarti, walau ‘ringkih’ penyakitan sich), ya masih
juga punya ‘keinginan’ atau cita2 terpendam yang
menggelora lagi,