mami rey

welcome to my blog #IIS SUHAEMI#...monggo mampir yoo...

Kamis, 15 Maret 2012

@office :-)




30 minggu persiapan nih..@_@

Persiapan Sebelum Persalinan / Melahirkan
Oleh: mami
Agar andapun selalu siap walaupun perkiraan tanggal persalinan anda meleset
Keyword : persiapan, persalinan, melahirkan
Seperti yang telah ibu tahu, trisemester 2 merupakan waktu mengandung yang sangat menenangkan bagi ibu hamil. Ibu tidak lagi terkena serangan morning sickness. Janinpun masih berukuran kecil sehingga tidak mengganggu aktifitas ibu hamil sehari-hari.
Menginjak trisemester 3, banyak sekali yang harus diwaspadai, mulai dari kaki bengkak, plasenta privia dll. Dokter kandungan mungkin sudah memperkirakan hari kelahiran bayi anda, namun demikian hanya Allah yang tahu pasti kapan bayi anda akan lahir. Sehubungan dengan hal tersebut tidak ada salahnya kalau pada Trisemester 3 ini ibu hamil menyiapkan berbagai keperluan yang diperlukan pada saat persalinan / melahirkan nanti.
Bila anda telah mempunyai pilihan rumah sakit bersalin, tidak ada salahnya untuk bertanya kepada mereka apa - apa yang diperlukan oleh ibu dan bayi ketika persalinan/melahirkan nanti. Bila anda belum menentukan pilihan, berikut adalah daftar barang yang biasanya diperlukan / ditanyakan di rumah sakit.
Pembalut Ibu Melahirkan (lebih dari 10)Berbeda dengan pembalut wanita biasa, pembalut ibu melahirkan di desain khusus sehingga dapat menyerap darah lebih banyak. Ibu membutuhkan pembalut ibu melahirkan minimal 10 buah. Namun demikian sebaiknya anda membawa cadangan berhubunga pembalut khusus ini tidak dijual secara bebas di toko/supermarket.
BH Menyusui (secukupnya)BH menyusui mempunyai bentuk yang disesuaikan untuk keperluan menyusui. Bagian depan BH dapat dilepas sehingga memungkin bayi untuk dapat menyusu walaupun ibu masih mengenakan BH.
Celana Dalam (secukupnya)Usahakan untuk membawa celana dalam dengan ukuran yang sama ketika hamil. Ini dikarenakan badan ibu memerlukan waktu untuk kembali ke ukuran semula seperti saat sebelum hamil.
Gurita/Korset (minimal 3)Untuk mempercepat kembalinya bentuk tubuh ibu, ibu dapat mempergunakan gurita / korset untuk ibu hamil. Bawalah lebih sebagai cadangan bila kotor / terkena darah
Baju Tidur / Daster (minimal 4)Anda akan menginap selama kurang lebih 2 hari bila ibu melahirkan normal dan kurang lebih 5-6 hari untuk persalinan lewat operasi caesar. Adalah lebih bijaksana kalau anda membawa baju tidur untuk 6 hari mengingat kita tidak tahu secara pasti persalinan mana yang akan anda lewati. Baju tidur/daster yang anda siapkan hendaknya mempunyai kancing depan sehingga memudahkan ibu untuk menyusui bayi nantinya
Baju Santai / Casual - 2 buahBaju santai / casual digunakan oleh ibu ketika pulang dari rumah sakit. Siapkan baju hamil anda di trisemester 1 dan baju anda di trisemester 3
Seperti yang kami kemukakan diatas, tidak semua rumah sakit menyiapkan keperluan dasar untuk si kecil. Oleh sebab itu anda perlu menyiapkan beberapa perlengkapan sebagai berikut :
Bedong (minimal 12).Setelah lahir, bayi masih harus menyesuaikan diri dengan suhu di luar rahim. Untuk itu bawalah bedong minimal 12 sebagai cadangan bila si kecil sering buang air kecil.
Baju dan Popok bayi (minimal 12)Perlu diingat bayi anda sering buang air. Anda perlu membawa ekstra popok untuk berjaga-jaga kalau bayi anda buang air di malam dan siang hari
Selimut (minimal 1)Karena ruangan prenatal / ruangan bayi cukup dingin, tidak ada salahnya anda membawa selimut tambahan untuk bayi anda.
Topi Bayi, Kaos Kaki dan Kaos Tangan Bayi (secukupnya)Untuk lebih menghangatkan kepala, kaki dan tangan bayi anda, bawalah topi bayi, kaos tangan dan kaos kaki bayi secukupnya.
Sisi Bayi (1 buah)Sekedar berjaga-jaga, agar rambut bayi anda tampil rapi dihadapan kenalan anda, sediakan sisir bayi untuk merapikan rambut bayi anda
Gendongan Bayi (1 buah)Untuk membawa pulang bayi, sediakan gendongan bayi yang nyaman dan aman bagi bayi dan anda
Keperluan ibu dan bayi pada saat persalinan tersebut hendaknya dipersiapkan di trisemester 3 dan dijadikan satu dalam tas khusus yang mudah dijangkau sehingga sewaktu-waktu tiba saat untuk bersalin / melahirkan. Ibu dan suami dapat berangkat segera ke rumah sakit.

Rabu, 14 Maret 2012

Anak vs Karier

Namanya manusia, gak pernah puas. Yang blom nikah, maunya pengen nikah (piss ah!), yg udah nikah blom punya anak pengennya cepet2 punya anak, yg udah nikah&punya anak pengennya suaminya perfect & bisa mengerti, pengen rumah yg lebih besar, mobil keluaran tahun terbaru, ach…panjaaaang ya, kalo mikirin keinginan kita terus, gak ada habisnya,
DILEMA....disisi lain ingin terus bekerja tapi anakku yg kedua haruskah senasib dengan kakaknya yg di tinggal sama pengasuh,sediiihhhh........kalo kakaknya nangis dijailin anak lain sebagai ibu aq tersentuh apalagi kalo mau berangkat kerja si kakak bilang," ibu jangan kerja ya ama dede aja di rumah"" huaaa,,,banjir deh air mataku...:-(
 
Tapi seiring pertambahan usia (doooh,padahal sy baru 25 lho, lg ranum2nya **dikemplang**) saya mengubah keinginan2 saya itu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Manusia tanpa keinginan adalah jiwa2 yang mati dalam jasad yang bernapas. Kita ‘wajib’ punya cita2 tinggi, terhadap diri kita, terhadap anak2, terhadap kehidupan perkawinan, atau terhadap karir. Jangan pernah mau stuck, terlena di comfort zone – setidaknya itu motto saya. Karena hidup tanpa perubahan itu membosankan, tidak bermakna buat kita sendiri, dan tidak bernilai buat orang lain.
Cita2 tinggi boleh saja diidentikkan dengan ambisius (saya termasuk orang yang ambisius) tapi bisa khan ‘dibelokkan’ ke arah positif, dijadikan motivasi untuk tetap terus maju, tetap fight ketika kita mengalami rintangan dan cobaan. Kalau gak ambisius berarti gak punya cita2, gak punya planning, akhirnya gampang terombang-ambing. Membiarkan hidup mengalir bagai air bukan berarti gak punya tempat yang dituju. Air aja mengalir dari hulu ke hilir khan, maksudnya pasti ada tempat berhentinya, nah ‘tempat berhentinya’ itulah maksud saya, tujuan/cita2 kita (bukan mati lho,ya, karma semua manusia pasti ke tempat itu, gak usah dijadiin tujuan).
Boleh ya, mulai curcolnya **duduk bersila**
Mungkin kalau yang baca ini belum nikah, atau belum punya anak, saya gak tau bisa berempati atau gak. Kalau buat saya, dititipi anak itu benar2 suatu anugrah yang luar biasa yang mengubah hidup saya, jalan hidup saya mental & spiritual, mungkin. Dan inilah the real life sebenarnya ketika  sudah memasuki kehidupan pernikahan & dikaruniai anak (samasekali gak bermaksud mendiskreditkan yg belum punya anak, bukan berarti gak mengalami the real life, karna pasti cobaannya juga berat) kita gak bisa “cuma” memikirkan diri kita sendiri. Banyak banget permasalahan, sampe ‘berdarah-darah’ untuk tetap bisa bertahan, tapi itulah proses yang membuat kita menjadi ‘siapa’ kita sekarang. Ibaratnya, atlet senam itu, mustahil ada yang gak pernah jatoh berdarah2 kalo dia atlet berprestasi, karna untuk dapat seperti itu ya harus melewati serangkaian latihan dan ujian. Ya kalo gak mau jatoh jangan mimpi menang kejuaraan, kalo maunya terus di comfort zone jangan mimpi anda berhasil mencapai cita2 tinggi anda, kira2 begitu.
Sebelum nikah, ngeliat wanita karir yang cuanteq pake rok setengah mini+blazer plus percaya diri tinggi, kayaknya gemanaa getuh, sexy banget (kalo saya jadi pria) maka mulailah saya ‘merintis’ cita2 saya itu, dengan segala daya upaya dikerahkan. Udah mulai kesampean tuh cita2, walo baru setengah tapi “bayangan” nya dah mulai keliatan jelas, eh kepingin nikah (lha,wong dah dapet yg cocok pisangnya –ups!- orangnya,maksud saiah). Trus emang gak mau nunda punya anak, alhamdulillah cepet dikasih,gak pake berobat ini itu. Tapi, ternyata susah ya, menjalani karir vs tetap mempertahankan rumahtangga supaya balance…, gak berhasil saiah ! **salut ama yang berhasil keduanya**
Sisi keibuan saya lebih mendominasi ketimbang ambisi mewujudkan cita2 saya jadi career woman yang sukses. Pilihan saya lebih berat ke anak, dibanding ke tawaran upeti yang lumayan & kehidupan ‘dunia kantor’ yang (juga) saya cintai.  sebelum memutuskan, saya pikir2 dulu, krn saya bakalan gak ketemu temen2 kerja yang selalu ngangenin sampai kemungkinan saya harus ngerubah ‘total’ gaya hidup saya, krn dulu gak pernah bergantung secara materi kepada siapapun, termasuk suami saya..
Cukup/tidak, besar/kecil, itu memang relative pada setiap orang, buat saya yang penting semua kebutuhan dasar bisa dipenuhi suami, dan anak2 mendapatkan pendidikan terbaik, gak asal sekolah karna gak punya dana utk memilih sekolah yg bagus. Pendidikan harus yang terbaik. Gapapa ortunya hidup sederhana, asalkan anak2 jangan ‘dipaksa’ bercita2 sederhana.
Tapi tetep aja, ya itu tadi, namanya manusia gak pernah puas ya, udah ada suami (yg alhamdulillah Cuma semacem), dititipi anak (alhamdulillah gak ada kekurangan yg berarti, walau ‘ringkih’ penyakitan sich), ya masih juga punya ‘keinginan’  atau cita2 terpendam yang menggelora lagi,

Masa-masa jadi wanita karier..^_____^